.:: Menu ::.
.:: Shout Yours ::.
.:: Recent Entry ::.
.:: Calendar ::.
.:: Contact Me ::.

.:: Company ::.
.:: Community ::.
.:: Banner ::.
.:: Jejala ::.
.:: Feeds-Stats ::.
RSS
Atom


Hits |
.:: Credits ::.
|
|
|
Thursday, August 24, 2006
Pertama melihatmu, aku tersihir bagai batu. Aku hanya bisa diam bermain-main dengan angan dan khayalanku sendiri untuk dapat dicintai olehmu dan menjadi seseorang yang berarti dalam hidupmu. Tapi, siapa aku, siapa kamu. Aku hanyalah lelaki biasa yang tak punya apapun selain tubuhku sendiri. Tubuh rapuh dan ringkih, tidak seperti tubuh-tubuh lelaki yang ada dalam bayangan setiap perempuan. Tapi aku punya cinta. Cinta yang aku sendiri tidak tahu seberapa besar karena aku belum menemukan orang yang tepat untuk aku cintai.
Tidak sejak aku mulai melihatmu. Aku mulai merasakan cinta yang begitu besar. Mulanya aku ragu akan itu. Namun tidak lagi setelah rangkaian kebetulan dan peristiwa-peristiwa mempertemukanku lagi di lain-lain waktu. Rasa itu semakin tumbuh, memugar dan memekar dalam diri. Tak sehari pun aku tidak berharap untuk bertemu kamu. Tidak sedetikpun aku tidak membayangkan wajahmu. Mungkin inilah yang disebut cinta. Atau nafsu memiliki? Mungkin. Tapi, ah, kita lihat saja nanti. Aku tidak bisa mengatakan kalau cintaku kepadamu adalah cinta sejati. Benarkah ada cinta sejati? Aku ragu.
Lalu hari itu tiba. Saat aku melihatmu berjalan dengan seorang lelaki lain dengan mesranya. Akkkhhh.. hatiku hancur bagai debu. Beterbangan tak tentu. Musnah terbakar matahari. Terberai dihempas badai. Pupus sudah harapanku untuk dapat dicintai olehmu.
Ooohh.. dunia. Mengapa harus selalu aku merasa seperti ini. Aku mulai kehilanganmu. Sungguh aneh aku pikir. Mengapa aku bisa merasa kehilangan padahal aku belum memilikimu. Padahal aku tidak mengenalmu. Padahal, kau pun tidak mengenalku. Kau hanyalah satu di antara seribu yang lain yang melintas-lintas di mataku. Namun entah, mengapa rasa kehilangan dirimu lebih besar dari semua rasa kehilangan-kehilanganku yang lain?
dikirim pada 11:43 pm permalink
Sunday, August 13, 2006
Selalu saja ada yang tidak sanggup aku katakan saat suara berat laki-laki di dalam telepon itu bertanya. Ada rasa bersalah yang begitu tiba-tiba menghentakku. Rasa bahwa diri ini begitu lemah. Kekhawatiran-kekhawatiran itu, rasa takut itu. Aku hanya bisa diam menahan rasa takut dan air mata yang tiba-tiba saja membuncah di pelupuk mata. Ingin aku mencurahkan segala sesal dan salahku kepadanya, berikut kata maaf yang meski aku ucap beribu kali takkan sanggup menghapus semua dosaku padanya.
Pak, tak ada yang bisa diharapkan lagi dariku. Aku, anak kecil dalam gendonganmu yang dulu merengek-rengkek untuk berlari sendiri, aku anak kecil yang dulu bermimpi dapat menaklukkan dunia sendiri, aku anak kecil yang dulu kau harapkan untuk bisa mengangkatmu lebih tinggi. Aku tak sanggup, Pak, aku telah gagal. Entah telah berapa peluh telah kau kucurkan untuk mengajariku berlari, bahkan terbang. Entah berapa keringat telah kau peras keluar dari tubuhmu yang ringkih itu untuk memberiku bekal. Aku telah menyia-nyiakan itu semua, pak.
Bapak, dulu kaulah yang mengajariku untuk berani bermimpi, kau lah yang mengajariku untuk berani berharap terbang ke langit. Terima kasihku yang tak terkira untukmu, pak. Tapi aku mungkin terlalu berani bermimpi, pak. Mungkin aku terlalu berani untuk terbang terlalu tinggi ke langit. Hingga saat aku terjatuh, aku sekarat, aku tak berdaya, aku kalah. Salah siapa? Bukan salahmu, pak. salahku sendiri. Aku telah mengabaikan petuah-petuahmu, aku telah mengabaikan petunjuk-petunjukmu.
Saat itu aku begitu terlena saat tubuhku tengah melayang tinggi di langit. Aku bermimpi bisa mengajakmu serta. Mengajak mereka, anak-anakmu lainnya dan dan mengajak ibu. Kau pun begitu bangga melihatku ada di atas sana. Aku begitu bangga hingga semua bentang langit aku jelajahi, pun bentangan langit yang tidak seharusnya aku jelajahi. Hingga aku melihat terlalu banyak dari yang aku mampu.
Dari sana lah aku mulai bermimpi, pak. Mimpi yang mungkin sangat tidak masuk akal buatmu dan buat orang-orang. Mimpi yang begitu berbeda dengan orang-orang lainnya. HIngga aku mulai berani untuk terbang dengan cara terbang yang berbeda. Mulanya aku percaya aku sanggup melaluinya dan kelak akan tiba di ujung dunia yang aku impikan. Itu semua karenamu, Bapak. Kau pernah berkata, meski aku tidak punya sayap, beranilah untuk terbang. Maka dari itu aku melakukan itu semua, pak.
Namun ternyata, angin tidak bersahabat denganku, Pak. Aku terhempas, aku jatuh, aku melayang tak tentu arah. Badai tak henti-hentinya menggulungku. sayap yang aku punyai berguguran satu persatu. Aku terdampar di satu titik dimana aku tak sanggup lagi mengepakkan sayap untuk memulai terbang. bahkan kini aku tidak lagi memiliki sayap. Hanya dua lengan lemah yang ku punya. Sementara badai dan debu mengintaiku dari balik awan dan dedaunan untuk siap menerjangku kembali.
Bapak. Aku tidak sampai di titik manapun yang diharapkan, tidak olehku, tidak juga olehmu. Pun aku tidak bisa kembali lagi ke titik semula, karena itu tidak mungkin. Bapak, aku telah gagal untuk membawamu terbang bersamaku, karena aku sendiri tidak bisa terbang, Pak.
Bapak, beribu maafku untukmu. Kau pastinya tengah menunggu, darah dari dagingmu, daging dari darahmu untuk tumbuh menjadi manusia yang berarti. Tampaknya kau harus menunggu lebih lama, Pak. Aku akan mencoba untuk kembali terbang dengan sisa tenagaku, meski tanpa sayap. Aku akan berlari, meski tertatih. Aku akan berenang meski hampir tenggelam.
Pak, sebenarnya aku malu untuk memintamu meski hanya satu hal ini, doakan aku, pak, doakan aku. aku sadar, hanya itulah yang kau punya yang bisa kau berikan untuk anakmu ini. Tidak apa-apa, pak. Aku sangat mengharapkan itu.
dikirim pada 10:49 pm permalink
Saturday, August 12, 2006
iseng buka-buka email lama di plasa. eh, ternyata email satu ini masih kesimpen. Hebatnya lagi, account di plasa kok masih bisa dibuka ya, padahal dah bertahun-tahun gak dibuka.
Baca email ini, jadi kangen sama adikku yang satu itu. Kangeeeeeen banget. pingin ngobrol panjang kaya dulu, sore-sore di depan rumah, atau malem sehabis isya. waah, jadi inget dulu gimana perjuangannya buat ke rumahnya. Naik sepeda, bro! Lewat kuburan Cina, lewat sawah tebu yang gelapnya minta ampun. Maklum lah, aku memang ga punya motor. Pas sudah sampai di depan rumahnya, wuih.. lega banget rasanya.
Dik, sekarang kau dimana? Sudah bertahun-tahun kita gak ketemu, gak ngobrol. Kabarmu gimana? Aku tidak tahu harus mencarimu dimana.. aku ingin ketemu, sekali saja, untuk tahu dan memastikan bahwa kamu tidak apa-apa.
| From: "pwandari.m" <one-d4@plasa.com> | | Subject: Re: matursuwun......----->sami-sami | | Date: Mon, 24 Mar 2003 19:37:51 +0700 | | To: "adi toha " <mazdhie@plasa.com> |
Assalamualaikum......(salamku buatmu...my brother...) Hai mas.... sorry-sorry-sorry buanget aku ngga' pernah ngebales emailmu . itu karena aku sekarang ngga' ada waktu.... , bukan berarti sok sibuk lho... karna aku sekarang kuliahnya pdat buanget ma'lum udah semester tengah sih ,pulangnya sore-oere terus ( dari 07.30-1/2 enam sore) kacihan deh gue yaaaaa. Udah ah jangan dibahas yang itu lagi ,bikin pucingggggg Oh ya gimana udah dapet cewe' Bandung belum kalo belum kejar terus sampai dapet aku dukung kamu dari belakang oke ...sebagai sahabat yang baek hati. Mas....... Trims ya atas semua puisi -puisimu yang kau kirim buat aku . semua bagus -bagus deh sampe aku bingung nmau nilainya(mbiji..) soalnya terlalu bagus sih. Tapi sayang aku khan bukan pujangga jadi aku ngga' bisa ngebales semua puisi-puisimu ,jangan marah ya???? bener deh aku ngga' bisa nulis puisi(aku terus terang deh......sama kamu) dulu aja aku dapet nilai 6 khusus puisi, sedangkan temenku dapet 9, kacihan deh gue. Mas...... kita bahas soal u call me, aku tuh ngga' pa-pa kamu call me terus tapi jangan keseringan gitulho maksudku...... aku juga mikir kita diberi doku ama ortu kita khan harus hati-hati,ngga' buat yang sembarangan. kecuali kalo kamu udah punya penghasilan sendiri, itu lain lagi. Aku aja sekarang jarang maen ke warnet abis ditempatku mahal sih,,, 1 jam aja Rp 5400.-(mahal khan).mumpung ini aku lagi maen ke warnet aku bales aja emailmu tapi jangan bosen ya bacanya, abis puanjang banget sih,mungkin kalo pake surat udah berapa lembar ya.... itung sendiri ya..... Mas aku jane pingin ganti email ke yahoo apa ke hotmail tapi ngga' BISA terus kenapa ya...... udah dulu ya mas kapan -kapan kita lanjutin lagi sebetulnya aku masih pingin ngomong banyak sama kamu ,tapi kalo aku terusin bisa sampai 10 hari kali yaaaaaa' Wassalam ........... moga sukses kuliahnya jangan banyak maen ingat-ingat pesan adikkmu ini.... dariku yg manis. one-d4
dikirim pada 05:32 pm permalink
Gustii.. gustii..
Piye iki.. kok urusane dadi koyo ngene. Arep luru-luru pangan sa'titik ae kok angel'e sa'pore. piye jal. Mumet tenan aku ik. Wis ngunu, konco-konco podho ngilang, ora enek sing iso diutangi. wedhi ra kebayar po?
Wis, duwetku enthek. Arep luru-luru kanggo nggawe rak buku angel. Lha piye, nek ora ono rak bukune, aku arep dodol piye? Moso' bukune arep ditumpuk-tumpuk ae, ra' lucu. Wis koyo ngunu, utang-utange sing kudu dibayar yo isih okeh.
lha piye maneh, aku kumudu kudu istiqomah ning dalan iki. aku isih duwe cita-cita/karepan gede ning dalan iki. aku percaya isih iso berhasil. tapi, lha nek kondisine koyo ngene yo, arep kepriye? Toko bukune urung iso dibuka, margo rak-rak'e durung ono, mejo-mejone yo rung ono.
padahal, jatinangor wis mulai rame. okeh mahasiswa2 anyar sing wis podho teko. iku pasar gede. tapi aku ra iso ngrayah, ngrayah banca'an.
yo, sa'asline pingin kondho karo ngomah, nek kondisiku neng kene sik angel koyo ngene, sapo reti ngomah iso mbantu sitik-sitik. tapi, aku isin. wis reti dewe nek ngomah yo kondisine podho wae, malah okeh tanggungan adi-adiku sekolah. mengko nek aku kondo karo ngomah, malah nambahi mumet bapak.
mending tak pikire dewe wae lah. Ngomah ora kudu ngerti. mengko wae nek wis kelar kabeh, nembe tak kandakke ngomah kepriye2ne.
"sing sabar ae, dadi menungsa iku urip kudu sing sabar, gusti allah iku maha adil, maha ngerti kabeh. Njaluk'o pitulung karo sing nggawe urip. yo Bapak bisane mung ndungakke, mugo-mugo opo panjalukmu dikersa'ake." yo paling-paling koyo ngunu kandhane bapakku. yo, kepriye maneh. awa'e dewe mung bisa usaha lan ndungo.
"sing sabar yo. di. ora usah dipikir nemen-nemen. mundak dadi stress."
lha, pancen wis stress.
dikirim pada 04:52 pm permalink
Thursday, August 03, 2006
Catatan Mimpi, Kamis 03-09-06
Peristiwa dalam mimpi kali ini yang
betul-betul aku ingat adalah mulai dari peristiwa kepulanganku ke rumah
di Pekalongan. Waktu itu hari telah beranjak sore. Karena telah lama
tidak berada di rumah, aku kangen untuk mandi di kali di belakang
rumah. Makanya aku berencana sore itu untuk mandi. Aku melihat arloji
di tanganku dan di HP ku sama-sama menunjuk jam 3:15 sore. Ah, masih
cukup waktu pikirku. Lalu aku pun beranjak menuju ke hilir kali
melewati sebuah perkapungan yang memang telah aku kenal orang-orangnya.
Aku mampir di sebuah warung langgananku untuk membeli sampo dan
beberapa jajanan.
Aku ingat betul, jajanan yang aku beli adalah bakwan (bala-bala).
Setelah itu aku kembali melanjutan menuju sungai. Lalu aku bertemu
kakak perempuanku yang tengah hamil. Suaminya memang tinggal di
perkampungan yang hendak aku lewati itu. ia tengah membawa sebuah
kantong keresek besar berisi makanan. lagi-lagi bala-bala (bakwan),
masih anget lagi. Aku menghampirinya. Ia bertanya kepadaku aku mau
kemana. dan aku menjawab aku mau ke sungai, pingin mandi.
Anehnya, ia berkata kepadaku bahwa sungai tengah kering, airnya butek,
dan tidak bisa dipakai untuk mandi. lagipula, katanya saat itu sudah
jam setengah enam, hampir maghrib. Aku kaget. kembali aku lihat jam di
arloji dan hpku, masih menunjuk jam 3:15, tapi mengapa kakakku
mengatakan kalo saat itu sudah jam setengah enam? aku penasaran, lalu
aku melihat jam dinding di beberapa rumah, ternyata memang jam setengah
enam. AKu berpikir, mungkin aku terselamatkan waktu itu. Jika tidak,
mungkin aku masih di sungai saat maghrib tiba.
Lalu aku membantu kakakku membawakan keresek makanannya ke rumah. waktu
itu rumahku akan ada 'Barzanji', dan makanan yg dibawa kakakku adalah
untuk menjamu yang datang.
Di perjalanan menuju rumah, aku melihat genangan air luapan sungai.
terlihat luas seperti danau. Aku melihat pantulan biru langit yang
jernih. aku tertegun sesaat. Lalu air menjadi bergelombang, rupanya ada
dua ekor biawak besar
yang tengah berenang menepi. biawak itu terlihat seperti naga, atau
nessie. satu biawak berwarna kuning seperti biasanya, dan satu lagi
warnanya putih abu-abu,
biawak yang aneh. kedua biawak itu menuju sebuah tanah kosong
bersemak-semak tempat membuang sampah di dekat rumahku. di sana banyak
anak ayam untuk dimangsa. aku sempat melihat kedua biawak itu menangkap
beberapa ekor anak ayam.
Di depan rumah banyak anak-anak teman adikku yang tengah berkumpul.
Anehnya, biawak-biawak itu malah mendekati mereka. Dalam pikiranku
waktu itu, biawak2 itu akan memangsa mereka dari semak-semak, tidak
biasanya biawak tidak takut melihat manusia. Aku langsung saja
merangsek menuju biawak itu dan melemparinya dengan batu seadanya yang
aku temukan. Biawak-biawak besar itu menoleh dan berlari ke arahku. aku
bersiap siaga untuk menendang kepalanya sekeras mungkin jika mereka
makin mendekat. Namun, sebelum mereka mendekat, aku berhasil mengenai
kepalanya dengan sebuah batu besar. Biawak itu pun berhenti. kembali
aku mengenai kepala biawak-biawak itu dengan batu. mereka diam.
sepertinya kepala mereka langsung remuk terkena batu lemparanku. Aku lega.
Aku kembali melanjutkan langkah ke rumahku. aku berpikir, apakah aku
akan mengatakan kepada anak-anak itu bahwa ada biawak-biawak besar yang
tengah mengintai mereka dan telah aku bunuh, ataukah aku diam saja,
membiarkan mereka tidak tahu dan semuanya seperti tak pernah terjadi.
Saat itulah aku terbangun..
dikirim pada 05:50 pm permalink
Tuesday, August 01, 2006
Konsistensi dan Konsekuensi
Ada satu titik dimana
konsistensi atas pilihan benar-benar diuji. Orang-orang, hal-hal dan
segala sesuatu dari dunia, dari suatu fragmen hidup yang telah kita
tinggalkan dan tidak ingin kita tengok lagi, kembali datang untuk
mengunji. Kedatangan mereka mungkin akan membuat kita menyesali
pilihan-pilihan yang telah kita ambil dan kita yakini. Yang
lebih membuat kita bimbang, terkadang mereka datang di saat kita tengah
mengalami titik terendah keberhasilan dari pilihan yang telah kita
ambil. haruskah kita meninggalkan pilihan yang telah kita ambil dan
kembali kepada fragmen kehidupan yang telah lama kita tinggalkan?
Penyesalan-penyesalan itu terus membayang dan menggoda.
Apalah arti sebuah konsistensi? JIka dengan mudah kita terombang-ambing
oleh suatu keadaan yang membuat kita sungguh tak berdaya untuk terus
maju di jalan yang telah diambil. Bukankah, ketika telah
memilih sebuah pilihan, kita juga telah memillih sebuah konsekuensi
atas pilihan itu, apapun itu. Mau tidak mau, konsekuensi atas pilihan
pasti selalu mengikuti setiap pilihan yang telah diambil. Itulah
konsistensi, kesiapan atas segala konsekuensi yang akan terjadi.
Konsistensi, konsekuensi, sungguh sangat berat untuk dilakukan. kata
dengan mudah terucap namun jika pada satu titik kita dihadapkan pada
keduanya, mungkin saja kita goyah dan menyerah kalah. Pada satu titik
dimana konsekuensi yang terjadi tidak seperti yang telah dibayangkan
sebelumnya. Menyerah? itu adalah kata baru yang hampir saja
terserap entah dari bahasa mana oleh kamusku. Menyerah dan lari.
Kenyataan menempatkan aku di sebuah jalan dimana aku sudah tidak punya
waktu lagi untuk mundur, namun aku tidak punya cukup kekuatan untuk
maju. Sementara jika aku berdiam diri, ribuan anak panah telah siap
untuk melesat menghunjam sekujur tubuhku dari berbagai sisi.
Satu persatu anak panah itu telah menusuk dadaku. satu anak panah
menusuk di perutku, satu lagi di pergelangan kakiku. langkahku pincang.
Sakit. Sakit. Perih. Namun yang lebih menyakitkan adalah,
pada titik itu, tak ada seorang pun teman yang membantuku. Teman-teman
yang selama ini aku andalkan ke-temanan-nya, teman-teman yang selama
ini telah melalui sebuah fragmen kehidupan suka dan duka bersama,
teman-teman dalam menemukan diri, teman yang oernah aku bantu..
Mereka pergi. Baiklah, mereka telah berhasil menemukan jalannya, telah
berhasil menemukan dunianya, setidaknya mereka telah berhasil
mendapatkan sesuatu untuk bekal hidup yang lebih baik. Tidak tuluskah aku dalam membantu mereka dulu? Atau mereka merasa tidak pernah terbantu olehku? Aku tak tahu.
Ah, yang pasti, saat ini aku merasa ditinggalkan oleh mereka, karena
kenyataannya, aku menghadapi semua ini sendirian. Memang, aku tidak
bisa menyalahkan siapa-siapa, aku tidak bisa mengeluh ke siapapun.
garis hidup kita kami memang sudah tidak bersinggungan.
Teman, Kawan, atau siapapun. Saat ini aku tengah menghadapi pertarungan
ini sendirian. pertarungan yang akan menentukan siapa diriku, sampai
sejauh mana daya tempurku. dan asal kalian tahu, pertarungan ini bukan
untuk diriku sendiri. aku ingin mempersembahkan kemenangan untuk semua
orang yang senasib sepertiku, orang-orang mengambil jalan berbelok dari
jalan yang seharusnya, karena pilihan mereka sendiri. Jangan
salahkan aku, jika suatu saat kalian datang kepadaku untuk minta
pertolongan atau bantuanku, sekecil apapun itu, aku akan menolak untuk
memberi. kalian lah yang memulainya, bukan aku. -Yang teraniaya dan ditinggalkan-
dikirim pada 02:54 pm permalink
Friday, July 28, 2006
Aku berkata kepada seorang temanku,
"Jika kau melihat keajaiban di dekatmu, tolong sampaikan padanya, aku
tengah mencarinya, aku butuh pertolongannya."
Lalu dia menjawab, "Apa benar hanya keajaiban yang bisa menolongmu? kalo begitu
titipkan pesanmu pada angin karna setahuku dia akrab sekali dengannya."
lalu aku berkata lagi, "Semalam telah aku titipkan pesanku pd angin, namun hari ini hanya terik dan
sengat yg aku dapat, aku takut, jika esok bukan silir yang aku dapatkan, tapi badai dan salju, beku."
Temanku pun menjawab, "Knapa kau takut badai dan salju membuatmu beku? bukankah keajaiban juga sering bermesraan dgn mereka?"
aku tidak bisa berkata lagi.
"Why do we fall, Master Wayne? So that we can learn to pick ourselves up"
- Alfred on Bruce Wayne, Batman Begin -
dikirim pada 11:32 pm permalink
- aku sudah
tidak bisa mundur lagi, namun aku tak punya cukup kekuatan untuk maju,
sementara jika aku berdiam diri, ribuan anak panah telah siap untuk
menghunjamku dari berbagai sisi. - jika suatu saat kau melihat keajaiban, sampaikan padanya, aku tengah mencarinya, sebab aku butuh pertolongannya. - ternyata, semua tak seperti yang dibayangkan, Tuhan tidak menginginkan jalan hidupku terlalu mudah bagiku. - Tuhan, apa maksud semua ini? - ihdii Shiraatii, wa yassir amrii, wa iqdhi haajatii bi qadhaika bi rahmatika yaa arhamarraahimiin..
dikirim pada 05:54 pm permalink
Sunday, June 18, 2006
Gendok Karena Halaman Ilang
semalam aku tengah baca 'the lord of the ring -fellowship of the ring',
buku lama sih, tapi aku belum pernah membacanya, meski udah nonton
filmnya duluan. Sebenarnya dah sebulan lebih aku membacanya, di
sela-sela aktivitas yg lain, makanya gak selesai-selesai. baru kemarin
malam aku tergerak untuk segera menuntaskan baca buku.
berpuluh-puluh halaman terlewati, aku terpesona dan hanyut ke dalam dunia Middle-Earth Tolkien, tak ingin berhenti membaca.
Namun, eh, pas nyampai halaman (kalau gak salah) 352, tiba-tiba balik
lagi ke halaman 321-an, hah, apa ini? aku bolak-balik lagi ternyata
berpuluh-puluh halaman terulang alias dobel, lalu langsung nyambung ke
halaman 385. hah? 33 halaman hilang??? padahal lagi rame-ramenya
perjalanan frodo dan kawan2..
Huh, karena saking keselnya, aku lempar buku itu ke dinding.
Gendooooooooook, kata orang sunda, mah. kenapa? karena aku tidak punya
kuasa untuk menukar buku itu dengan buku lain yang bener alias tidak
salah cetak, karena aku meminjamnya dari sebuah persewaan buku.
Dibalikin lagi ke persewaan dan komplain? rasanya tidak mungkin, aku
udah telat balikin buku itu sebulan lebih, pasti dendanya buanyaaak.
Yang jelas, yang paling bikin kesel, kenikmatan bacaku terganggu karena
dalam buku ada halaman yang kurang. jadi males untuk nglanjutin baca
lagi. huh!
dikirim pada 12:46 pm permalink
Friday, June 16, 2006
Catatan Mimpi, Jumat 16-06-2006
Seseorang mengambil dua buah buku dengan alasan untuk dipinjam, padahal
seharusnya buku itu adalah untuk dijual di toko bukuku. Orang itu tidak
aku kenal. Lagipula ia mengambilnya begitu saja, memaksa kepada staf
toko bukuku untuk meminjamkannya. Jika orang itu seorang teman dekat
pasti aku akan mengijinkannya. Tapi aku tidak mengenal orang ini,
tingkah lakunya saat melihat-lihat buku di toko juga menyebalkan. Orang
itu membawa buku itu begitu saja keluar dari toko buku meski belum
mendapatkan ijin dariku atau dari stafku.
Aku mengejarnya, bermaksud menahannya. Namun setelah keluar dari toko
buku, aku tidak melihat ia di jalanan. Aku tengok kiri dan kanan orang
itu sudah tidak ada. Lalu aku berlari ke jalan yang menurutku pasti
dilewatinya. Aku berlari terus dan terus mengejarnya untuk memintanya
mengembalikan kedua buku itu, namun aku selalu kehilangan jejak. Orang
itu sudah tidak ada. Aku tersesat di jalan-jalan kota yang tiba-tiba
saja tidak aku kenal. Banyak sekali persimpangan jalan yang aku temui.
Namun aku tetap berusaha mencari orang itu, karena aku yakin dia belum
jauh dan aku pasti menemukannya.
Aku berhenti di trotoar sebuah persimpangan jalan. Tampak di depanku
sebuah persimpangan, namun aku tidak dapat menemukan jalan untuk terus
maju. Trotoar jalan di depanku itu tertutup oleh sebuah pagar besi.
Tidak ada jalan lain untuk meneruskan langkah kecuali aku harus
menyeberang, sedangkan jalanan sangat ramai. Aku bingung dan mengutuki
diri sendiri. Lalu tiba-tiba aku melihat seorang ibu tua berjalan
setengah bungkuk dengan pakaian kebaya lusuh membawa buntalan kain di
punggungnya. Ia berjalan begitu saja menembus pagar besi itu pada salah
satu sisinya. Aku mengikutinya. Aku sadar, ternyata, ada celah jalan
yang bisa aku masuki untuk melewati pagar besi itu. Aku pun kembali
berlari, menyeberang perempatan yang tengah ramai.
Aku terus berlari dan berlari tanpa tahu apa yang aku cari. Aku sampai
di hilir sebuah sungai yang jernih airnya dan dangkal. Aku memutuskan
untuk menyeberang. Sesampainya di seberang aku kembali berlari. Kembali
aku menemukan sebuah perempatan jalan desa. Aku melihat sebuah angkutan
desa tengah menaikkan penumpang-penumpangnya. Hanya ada satu angkutan
desa, itu pun sudah penuh, tetapi orang-orang masih ingin tetap menaiki
angkutan desa tersebut. Mereka berkerumun menyesaki perempatan desa.
Aku tidak ambil pusing akan mereka. aku melewati mereka begitu saja dan
terus berlari.
Tiba-tiba jalanan yang aku lalui semakin menyempit dan berubah. Mulanya
aku berlari di atas jalanan aspal kasar, lalu jalanan itu berubah
menjadi jalan tanah yang semakin menyempit. Aku tersadar aku telah
salah mengambil jalan. Lalu aku kembali menuju perempatan tempat aku
melihat angkutan desa. Angkutan desa itu telah pergi, meninggalkan
sisa-sisa orang yang tidak diangkutnya. Aku berbelok di perempatan itu
dan kembali berlari. Kali ini jalan yang aku lalui adalah jalan dari
batu-batu sebesar kepalan tangan yang diserakkan begitu saja. Jalannya
tidak rata, kadang aku nyaris terpeleset jatuh. Dengan susah payah aku
berlari di atasnya. Letih, lelah dan haus ku rasakan.
Di ujung jalan berbatu itu aku melihat silau matahari yang memantul di
atas permukaan air. Sungai pikirku. Aku terus saja berlari, menembus
lorong-lorong pepohonan. Tiba-tiba aku keluar dari jalanan berbatu dan
mendapati diriku ada di tepi sebuah sungai. Di depanku aku melihat
ayahku, ibuku dan orang-orang lain yang tidak aku kenal. Anehnya,
seseorang yang telah mengkhinati dan sangat aku benci juga ada di sana.
Dia seperti tidak mengenalku. Mereka tengah mencuci baju di sungai,
seperti kebiasaan orang-orang di desaku. Melihatku, bapak dan ibuku
kaget. Mereka lalu mengatakan bahwa mereka melihat aku berlari dan
menyeberangi hilir sungai. Berarti aku tengah berada di hulu sungai,
pikirku. Mereka mengkhawatirkan aku.
Lalu aku turun ke sungai bermaksud menghampiri bapak dan ibuku. Aku
harus melewati sebuah tangga kayu kecil dan tidak begitu tinggi. Aku
semula kesulitan untuk melewatinya. Di samping rasa lelahku yang sangat
sehingga aku tidak bisa menjaga keseimbangan, tiba-tiba saja kedua
tanganku tengah memegang sebuah benda dalam keresek hitam, entah isinya
apa, sehingga aku tidak bisa berpegangan pada apapun. Lalu ibuku
menghampiriku, ia menawarkan diri untuk memegang bungkusan yang ada di
kedua tanganku. Aku menyerahkannya, sehingga aku dengan mudah bisa
menuruni tangga itu.
Tiba-tiba aku telah berada di rumah. Dengan ibu dan bapakku. Bapakku
menghampiri aku dan menunjukkan sebuah buku yang dia temukan di ladang
belakang rumah saat ia tengah mencangkul tanah. Ternyata buku yang aku
cari. Aku ingat betul, orang yang aku kejar-kejar membawa buku itu.
Ayahku membuka lembar demi lembar buku itu di depanku. Terdapat banyak
coretan, dan bercak-bercak kotor tanah di sana. Aku mulai ragu, apakah
buku itu benar-benar buku yang telah dibawa oleh orang yang aku
kejar-kejar, ataukah itu adalah buku lain yang kebetulan saja judulnya
sama. Aku tidak ingat persis apa judulnya. Di saat keraguan masih
menyelimuti pikiranku, aku terbangun. Mimpiku telah berakhir.
dikirim pada 11:40 am permalink
Google Modules
|
|